Definisi Kota dan Kawasan Perkotaan

Definisis klasikkota  menurut Rapoport dalam Zahnd (1999; 4) adalah suatu permukiman yang relatif besar, padat dan permanen, terdiri dari kelompok individu-individu yang heterogen dari segi sosial. Dari definisi di atas, perkmukiman/kota digambarkan sebagai objek yang mempunyai elemen-elemen (aspek sosial) yang mempengaruhi kegiatan yang ada dan mungkin ada pada pembangunan selanjutnya.Kotasebagai tempat terpusatnya kegiatan masyarakat terus berkembang dengan semakin kompleksnya kegiatan-kegiatan dalamkota,kotatidak lagi mempunyai fungsi tunggal (single use-pemenuhan kebutuhan masyarakatkota) namun memiliki kecenderungan multi fungsi (mixed use) dengan fungsi kegiatan yang berorientasi pada kepentingan pasar (wilayah) dan kepentingan publik. Sehinggakotadapat diartikan sebagai suatu lokasi dengan konsentrasi penduduk/permukiman, kegiatan sosial ekonomi yang heterogen dan intensif (bukan ekstraktif atau pertanian), pemusatan, koleksi dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan sosial ekonomi yang ditetapkan secara administratif.  Jikakotaadalah suatu wilayah yang ditetapkan secara administratif, perkotaan tidak terbatas pada penetapan administratif, namun berdasarkan ciri-ciri perkotaan yang dimiliki oleh siuatu wilayah. Dalam UU Penataan ruang No.26 tahun 2007, kawasan perkotaan adalaha wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

 Kriteria kawasan perkotaan meliputi :

  1. Memiliki karakteristik kegiatan utama budidaya bukan pertanian atau mata pencaharian penduduknya terutama di bidang industri, perdagangan dan jasa;
  2. Memiliki karakteristik sebagai pemusatan dan distribusi pelayanan barang dan jasa didukung prasarana dan sarana termasuk pergantian moda transportasi dengan pelayanan skala kabupaten atau beberapa kecamatan. Berdasarkan UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Kawasan Perkotaan dapat berbentuk :
  • Kotasebagai daerah otonom; adalahkotayang dikelola pelh pemerintahkota;
  • Kotayang menjadi bagian daerah kabupaten yang memiliki ciri perkotaan; adalahkotayang dikelola oleh daerah atau lembaga pengelola yang dibentuk dan bertanggungjawab kepada pemerintah kabuaten.
  • Kotayang menjadi bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan langsung dan memiliki ciri perkotaan; dalam hal penataan ruang dan penyediaan fasilitas pelayanan umum tertentu dikelola bersama oleh daerah terkait.

Kriteria Kawasan Perkotaan:

(a)     Kriteria Kawasan Perkotaan yang merupakan Daerah Kota

  • Kemampuan ekonomi; merupakan cerminan hasil kegiatan usaha perekonomian yang berlangsung di suatu Daerah Kota, yang dapat diukur dari:

ü        PDRB (produk domestik regional bruto);

ü        Penerimaan daerah sendiri.

  • Potensi daerah; merupakan cerminan tersedianya sumber  daya yang dapat dimanfaatkan dan memberikan sumbangan terhadap penerimaan daerah dan kesejahteraan masyarakat, yang dapat diukur dari:

ü        Lembaga keuangan;

ü        Sarana ekonomi;

ü        Sarana pendidikan;

ü        Sarana kesehatan;

ü        Sarana transportasi dan komunikasi;

ü        Sarana pariwisata;

ü        Ketenagakerjaan.

  • Sosial budaya; merupakan cerminan yang berkaitan dengan struktur sosial dan pola budaya masyarakat, yang dapat diukur dari:

ü        Tempat peribadatan;

ü        Tempat/kegiatan institusi sosial dan budaya;

ü        Sarana olahraga.

  • Sosial politik; merupakan cerminan kondisi sosial politik masyarakat, yang dapat diukur dari:

ü        Partisipasi masyarakat dalam berpolitik;

ü        Organisasi kemasyarakatan.

  • Jumlah penduduk; merupakan jumlah tertentu penduduk suatu daerah.
  • Luas daerah; merupakan luas tertentu suatu daerah.
  • Pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah; dapat diukur dari:

ü        Keamanan dan ketertiban;

ü        Ketersediaan sarana dan prasarana pemerintahan;

ü        Rentang kendali;

ü       Kotayang akan dibentuk minimal telah terdiri dari 3 (tiga)

ü        Kecamatan;

Cara pengukuran kriteria tersebut di atas dilakukan berdasarkan ketentuan yang  tercantum dalam Lampiran PP No. 129 tahun 2000.

(b)     Kriteria Umum Kawasan Perkotaan

  • Memiliki fungsi kegiatan utama budidaya bukan pertanian atau lebih dari 75% mata 
  • pencaharian penduduknya di sector perkotaan;
  • Memiliki jumlah penduduk sekurang-kurangnya 10.000 jiwa;
  • Memiliki kepadatan penduduk sekurang-kurangnya 50 jiwa per hektar;
  • Memiliki fungsi sebagai pusat koleksi dan distribusi pelayanan barang dan jasa dalam bentuk sarana dan prasarana pergantian moda transportasi.

(c)     Kriteria Kawasan Perkotaan Metropolitan

  • Kawasan-kawasan Perkotaan yang terdapat di dua atau lebih daerah otonom yang  
  • saling berbatasan;
  • Kawasan Perkotaan yang terdiri atas satukotainti berstatus otonom dan Kawasan
  • Perkotaan di sekitarnya yang membentuk suatu sistem fungsional;
  • Kawasan Perkotaan dengan jumlah penduduk secara keseluruhan melebihi 1.000.000
  • jiwa.

(d)     Kriteria Kawasan Perkotaan Baru

  • Kawasan yang memiliki kemudahan untuk penyediaan prasarana dan sarana perkotaan 
  • dengan membentuk satu kesatuan sistem kawasan dengan kawasan perkotaan yang                   
  • ada;
  • Kawasan yang memiliki daya dukung lingkungan yang memungkinkan untuk 
  • pengembangan fungsi perkotaan; • Kawasan yang terletak di atas tanah yang bukan
  • merupakan kawasan pertanian beririgasi teknis dan bukan kawasan yang rawan
  • bencana alam;
  • Kawasan yang tidak mengakibatkan terjadinya konurbasi dengan kawasan perkotaan di
  • sekitarnya;
  • Kawasan yang sesuai dengan sistem perkotaan berdasarkan Rencana Tata Ruang 
  • Wilayah Nasional, Propinsi, dan Kabupaten;
  • Kawasan yang dapat mendorong aktivitas ekonomi, sesuai dengan fungsi dan 
  • perannya;
  • Kawasan yang mempunyai luas kawasan budi daya sekurangkurangnya 400 hektar dan 
  • merupakan satu kesatuan kawasan yang bulat dan utuh, atau satu kesatuan wilayah
  • perencanaan perkotaan dalam satu daerah kabupaten;
  • Kawasan yang direncanakan berpenduduk sekurangkurangnya 20.000 jiwa.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kajian Teoritis Perkotaan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s